Jelang Pemilu 2024, Trend Penggunaan Digital Marketing Communication Meningkat

Jelang Pemilu 2024, Trend Penggunaan Digital Marketing Communication Meningkat
IKUTI INSIGHT RUMAHMEDIA.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Pesta demokrasi Pemilu 2024 di depan mata. Para politisi mulai jor-joran melakukan komunikasi politik terhadap calon pemilih. Dalam kondisi demikian, tren penggunaan digital marketing communication di kalangan politisi Indonesia ternyata semakin menguat.

“Salah satu yang paling populer adalah penggunaan media sosial,” ungkap Dr. Jokhanan Kristiyono, Dosen Marketing Communication Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS).

Ia pun mengutip penelitian yang dilakukan Dr. Michael K. Weitz-Shapiro, profesor ilmu politik di University of Michigan, tentang penggunaan media sosial di kalangan politisi Indonesia.

Penelitian berjudul The Use of Social Media by Indonesian Politicians: A Comparative Study of the 2014 and 2019 Presidential Elections itu menunjukkan bahwa penggunaan media sosial oleh politisi Indonesia meningkat secara signifikan antara pemilihan presiden tahun 2014 dan 2019.

Pada tahun 2014, hanya 25 persen politisi Indonesia yang memiliki akun media sosial, sedangkan pada tahun 2019, angka tersebut meningkat menjadi 75 persen.

“Lalu penelitian dari Lembaga Survei Indonesia yang diterbitkan pada tahun 2022 menunjukkan bahwa media sosial menjadi platform yang paling penting bagi politisi Indonesia untuk berkomunikasi dengan pemilih,” jelas Jokhanan yang juga tercatat sebagai Ketua Stikosa AWS ini.

Sementara data dari Media Monitoring Asia menunjukkan bahwa penggunaan digital marketing communication oleh politisi Indonesia meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Data tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2019, politisi Indonesia hanya menghasilkan 10 juta interaksi di media sosial. Namun, pada tahun 2024, angka tersebut meningkat menjadi 100 juta interaksi.

“Data-data tersebut menunjukkan bahwa digital marketing communication telah menjadi bagian penting dari strategi komunikasi politik di Indonesia. Dengan memanfaatkan digital marketing communication secara efektif, politisi Indonesia dapat meningkatkan peluang mereka untuk memenangkan pemilu,” jelas Jokhanan lagi.

Selain sumber-sumber tersebut, masih banyak sumber lain yang menguatkan fakta penggunaan digital marketing communication di kalangan politisi Indonesia. 

Hal ini menunjukkan bahwa digital marketing communication telah menjadi tren yang semakin populer di kalangan politisi Indonesia.

Dijelaskan Jokhanan, fakta ini menguatkan persepsi bahwa penggunaan digital marketing communications saat ini telah mengubah cara orang mengonsumsi informasi dan berinteraksi dengan merek.

“Hal ini menuntut para pemasar untuk menyesuaikan strategi mereka agar dapat menjangkau dan melibatkan audiens yang semakin sadar akan teknologi,” tegasnya.

Ia pun kemudian menunjukkan beberapa contoh pengaruh teknologi digital terhadap strategi pemasaran.

“Pertama, peningkatan penggunaan media sosial. Media sosial telah menjadi platform yang penting bagi pemasar untuk membangun hubungan dengan audiens mereka. Melalui media sosial, pemasar dapat membagikan konten yang relevan dan menarik, serta berinteraksi secara langsung dengan konsumen,” jelasnya.

Kedua, lanjut dia, munculnya pemasaran konten. Pemasaran konten adalah strategi pemasaran yang berfokus pada penciptaan dan distribusi konten yang bernilai bagi audiens.

“Konten yang berkualitas dapat membantu pemasar membangun kepercayaan dan kredibilitas dengan audiens mereka,” kata Jokhanan.

Ketiga, peningkatan penggunaan pemasaran seluler. Pemasaran seluler adalah strategi pemasaran yang dirancang untuk menjangkau audiens melalui perangkat seluler.

Dengan semakin banyaknya orang yang menggunakan perangkat seluler, pemasar perlu menyesuaikan strategi mereka agar dapat menjangkau audiens ini.

“Selain itu, isu-isu lain yang juga relevan dengan digital marketing communications saat ini antara lain perkembangan artificial intelligence atau AI, kesadaran akan privasi dan keamanan data, dan kebutuhan akan pemasaran yang berkelanjutan,” paparnya.

Isu-isu yang ada ini akan terus berkembang dan menuntut para pemasar untuk terus belajar dan beradaptasi.

Secara teknis, dalam konteks Pemilu 2024, isu-isu tersebut dapat menjadi peluang bagi para calon untuk menjangkau dan melibatkan pemilih.

“Misalnya pengaruh teknologi digital terhadap strategi kampanye. Para calon dapat menggunakan media sosial untuk membangun hubungan dengan pemilih, membagikan konten yang relevan dan menarik, serta berinteraksi secara langsung dengan pemilih,” jelas Jokhanan.

Pemilih usia muda 17 – 40 tahun, menjadi sasaran perebutan kontestasi politik. Di era transformasi digital ini, pemilih usia tersebut kecenderungan aktivitasnya tidak lepas dari gawai, internet dan media sosial.

Secara teoritis, pemilih berasal dari Gen Y dan Z sebagai generasi Milenial. Politisi menangkap momentum tersebut dengan membidik strategi pemasaran kampanye politik melalui media-media digital.

Maraknya pemasaran konten, juga membuat para calon dapat membuat pesan yang berkualitas untuk membangun kepercayaan dan kredibilitas dengan pemilih. Konten tersebut dapat berupa video, artikel, atau podcast.

“Dan sekali lagi, peningkatan penggunaan pemasaran seluler membuat para politisi dapat menyesuaikan strategi kampanye mereka agar dapat menjangkau pemilih yang menggunakan perangkat seluler. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat kampanye yang dapat diakses melalui perangkat seluler,” tandasnya.

Karena perlu diingat, digital marketing communications sejatinya sangat relevan dengan gaya hidup berinternet masyarakat Indonesia. Data We Are Social, 81,8 persen dari populasi Indonesia berusia 16 tahun ke atas menggunakan internet.

“Hal ini menunjukkan bahwa internet telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia,” tutup Jokhanan.

Sumber: Jelang Pemilu 2024, Trend Penggunaan Digital Marketing Communication Meningkat