Personal Branding: Menjadi Kandidat yang Dilirik, Bukan Dilewatkan

Personal Branding: Menjadi Kandidat yang Dilirik, Bukan Dilewatkan
IKUTI INSIGHT RUMAHMEDIA.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Di tengah era paradoks dunia kerja—ketika banyak lowongan tak terisi namun pencari kerja membeludak, personal branding menjadi senjata penting untuk menembus radar perusahaan.

Pasar kerja di Indonesia—jika kita menyadari curhat para pencari kerja dan penyedia lapangan kerja antara lain di media sosial—tengah menghadapi situasi paradoksal. Di satu sisi, banyak perusahaan mulai dari skala mikro hingga besar mengeluhkan kesulitan dalam merekrut talenta yang sesuai kebutuhan. Di sisi lain, jutaan pencari kerja kesulitan mendapat pekerjaan, bahkan untuk posisi mula (entry-level).

Fenomena tersebut mencerminkan ketidaksesuaian antara ketersediaan lowongan dan kesiapan tenaga kerja, yang dikenal sebagai ketidaksesuaian keterampilan (skills mismatch). Terpenting, fenomena ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di tataran global! Menurut laporan Manpower Group (2025), sebanyak 74% pengusaha global merasa kesulitan mencari tenaga kerja dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.

Masalah lainnya adalah ketidakseimbangan ekspektasi, terutama soal gaji dan jenjang karier awal. Banyak pencari kerja merasa layak mendapat posisi tinggi, namun belum memiliki portofolio atau rekam jejak yang cukup kuat. Dalam kondisi ini, personal branding menjadi kunci diferensiasi yang esensial. Bukan sekadar ajang pencitraan, personal branding adalah proses membentuk persepsi publik, terutama perusahaan, tentang nilai dan keunikan seseorang.

Di tengah persaingan ketat dan tekanan ekonomi yang meningkat, sekadar memiliki gelar akademik tidak lagi cukup. Yang kita butuhkan adalah kemampuan menampilkan diri secara strategis agar dilirik, bukan diabaikan, dalam bisingnya pasar tenaga kerja.

personal branding

Kenali Nilai Diri dan Komunikasikan dengan Tepat

Langkah awal membangun personal branding bukan dimulai dari media sosial atau desain CV yang mencolok, tetapi dari proses refleksi diri yang jujur dan realistis. Penting bagi pencari kerja untuk mengenali kekuatan, kelemahan, minat, dan keterampilan unik yang dimiliki. Hal ini membantu menyusun strategi personal branding yang tidak hanya menarik, tetapi juga autentik. Di saat yang sama, pemahaman terhadap kebutuhan industri mutlak diperlukan agar ekspektasi pribadi—termasuk soal posisi dan gaji—selaras dengan realitas pasar kerja.

Beberapa pelantar seperti LinkedIn Salary Insights atau Jobstreet Salary Guide dapat menjadi referensi dalam menentukan kisaran gaji awal yang masuk akal berdasarkan bidang dan lokasi kerja. Kita juga dapat mengecek data dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) untuk mengetahui rata-rata upah di setiap sektor.

Langkah berikutnya adalah membangun narasi diri. Personal branding yang kuat tidak dibentuk dengan jargon klise seperti “hard worker” atau “fast learner”, tetapi dengan cerita yang menggambarkan perjalanan, pencapaian, dan visi karier seseorang. Narasi ini sebaiknya menjawab dua pertanyaan utama: “Apa yang saya tawarkan?” dan “Mengapa perusahaan harus memilih saya?”

Penting juga untuk menjaga konsistensi lintas kanal. Informasi dalam CV, portofolio daring, dan profil LinkedIn harus selaras dan mencerminkan kepribadian profesional yang sama. Ketidaksesuaian, misalnya pengalaman kerja yang tercantum di LinkedIn tapi tidak di CV, berpotensi merusak kredibilitas.

Contoh konkret datang dari seorang lulusan baru jurusan manajemen yang sulit mendapat kerja formal. Ia lalu mengikuti beberapa program relawan dan micro-internship, kemudian mendokumentasikan pengalaman tersebut secara visual di LinkedIn dan Canva Portofolio. Setelah enam bulan kerja keras dan kerja cerdas membangun personal branding, ia berhasil menarik perhatian sebuah perusahaan dan mendapat tawaran sebagai business analyst junior.

Strategi seperti ini menunjukkan bahwa personal branding bukan milik mereka yang “sudah sukses”, tapi bisa dibangun sejak awal, bahkan dari pengalaman kecil, selama dikemas dengan narasi yang tepat dan jujur.

Manfaatkan Media Sosial dan Studi Kasus

Di era digital, media sosial bukan hanya tempat berbagi aktivitas pribadi, tetapi juga ruang strategis untuk membangun kredibilitas profesional. Pelantar pekerja profesional seperti LinkedIn menjadi pusat utama untuk menunjukkan profil karier, berbagi masukan, dan memperluas jejaring profesional. Menurut data Jobvite (2022), 77% perekrut secara aktif menggunakan LinkedIn untuk mencari kandidat yang relevan.

Selain itu, pelantar seperti Instagram, X, dan TikTok juga semakin sering dimanfaatkan secara profesional, tergantung pada bidang kerja. Seorang desainer grafis, misalnya, bisa memanfaatkan Instagram dan Behance untuk menampilkan portofolio visual yang menarik.

Salah satu contoh sukses desainer asal Indonesia yang berhasil menembus pasar internasional melalui pelantar digital adalah Evan Raditya Pratomo. Ilustrator ini memanfaatkan situs portofolio kreatif Behance untuk memamerkan karya-karyanya. Pada tahun 2016, ia menerima surel dari tim Paramount Pictures, yang tertarik dengan karya eksplorasinya yang memadukan nuansa Jepang dan Barat. Karya-karya tersebut dinilai cocok untuk proyek poster film Ghost in the Shell yang dibintangi oleh Scarlett Johansson. Evan kemudian diundang ke Selandia Baru untuk terlibat langsung dalam proyek tersebut (Behance, 2017).

Di sisi lain, lulusan komunikasi bisa menulis konten reflektif atau analisis tren industri di LinkedIn. Banyak kasus yang mana HR atau pencari bakat headhunter tertarik karena postingan semacam ini, karena menampilkan cara berpikir dan kepekaan kandidat terhadap isu profesional.

Jejaring digital juga memainkan peran penting. Terlibat dalam diskusi daring, komunitas industri, dan membagikan masukan dapat meningkatkan visibilitas. Peluang kerja tersembunyi sering kali muncul dari interaksi informal yang konsisten dan penuh nilai di ruang digital.