Strategi Mahadata Untuk Pemenangan Pemilu

Strategi Mahadata Untuk Pemenangan Pemilu
IKUTI INSIGHT RUMAHMEDIA.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Siapa bilang untuk menang dalam Pemilu hanya butuh strategi kampanye yang hebat? Politikus kini dapat memenangkan Pemilu dengan lebih mudah dan efektif dengan memanfaatkan data raksasa yang tersedia secara digital.

Kekuatan mahadata yang dapat membawa kemenangan dalam Pemilu telah terbukti pada Pemilu di berbagai belahan dunia. Pemenangan pemilu sangat erat terkait penggunaan mahadata.

Mahadata (big data) adalah istilah teknologi yang menggambarkan data yang sangat besar dan kompleks. Mahdata dapat berupa data tekstual (uraian), gambar, video, dan audio.

Mahadata biasanya dihasilkan oleh organisasi besar digital seperti Google, Facebook, dan Amazon; atau Komisi Pemilu di negara-negara yang memakai teknologi tersebut.

Mengapa mahadata penting bagi Pemilu? Menurut Sudhahar Dkk (2015), mahadata mampu menganalisis secara otomatis menurut permintaan, dan memberi gambaran tentang perkembangan pemilih.

Mahadata bisa menjadi acuan untuk analisis perkembangan jumlah perolehan pemilih pada calon pada Pilpres dan Pilkada.

Dengan adanya data raksasa, para pakar, peneliti, dan praktisi politisi mempunyai sumber informasi lengkap dan akurat serta terkini sehingga dapat memutuskan untuk langkah selanjutnya.

Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia. Oleh karena itu, teknologi data raksasa diperlukan, dan relatif sederhana pemakaiannya, serta cocok untuk menggambarkan perolehan setiap saat, yang mencerminkan seluruh warga pemilih Indonesia.

Data raksasa juga memberi gambaran bagaimana warga Indonesia berpikir dan bertindak dalam pemberian suara.

Fulgoni Dkk (2016) mengidentifikasi ciri pribadi pemilih sebagai data, yang dapat dipengaruhi oleh kampanye pemilu, yang mencakup faktor berikut: 1) Ciri tentang pandangan pada isu atau kebijakan publik, seperti penanganan dari penegak hukum terhadap korupsi;

2) Emosi atau perasaan pemilih, tentang pengalamannya pada perilaku calon Presiden, seperti apakah selalu serius atau terlambat tertawanya.

Kemudian, 3) Persepsi tentang perhatian calon Presiden; seperti perhatian pada penduduk miskin;

4) Peristiwa mengejutkan yang belakangan muncul, seperti perilaku menteri atau jenderal tertentu yang tiba tiba menggegerkan;

5) Pandangan sosial tentang nilai publik di masyarakat, seperti tingkat kejujuran para penegak hukum;

6) Epistemik atau asumsi sosial yang beredar, seperti apakah kinerja BUMN membawa kesejahteraan atau memperparah kemiskinan.

Dengan demikian, mahadata dapat digunakan memprediksi hasil pemilu atau pilkada, setiap saat. Hal ini telah terbukti efektif misalnya, ketika Tim Data Raksasa Jokowi-JK memenangkan Pemilihan Presiden 2014.

Peran mahadata pada Pemilu

Dapat diyakini, kekuatan mahadata lebih lengkap dan lebih dini dibanding jaringan viral media sosial. Data raksasa menjangkau hampir semua aspek kehidupan masyarakat modern, dan data Pemilu adalah salah satunya (Marr, 2020).

Dari Pemilu, menurut Bormann dan Golder (2013), ada tiga komponen calon pemilih yg perlu diketahui (Gambar dibawah): (1) Kelompok pendukung kandidat, (2) Kelompok penantang, dan (3) Kelompok ragu-ragu (swing voters atau undecided voters). Sedangkan pemilih kelompok ragu-ragu terdiri dari dua bagian: pendukung yang cenderung kearah kandidat tertentu (leaning candidate) dan cenderung kearah pesaing tertentu (leaning others candidates).

Menurut Fulgoni, Dkk (2016), strategi kampanye pemilihan dipengaruhi oleh “analitik” (profile pemilih), misalnya, fokus pada penargetan pemilih ragu-ragu (targeting swing).

Mengapa membuang waktu berkampanye kepada mereka yang sudah pasti memilih calon tertentu, atau mereka yang tidak akan pernah peduli memilih siapa pun?

Teknik analitik ini dipelopori oleh Kampanye Obama tahun 2012, ketika tiap hari tim dengan lebih dari 100 analis data ditugasi menjalankan lebih dari 66.000 simulasi komputer.

Bagaimana langkahnya? Pertama, para analis dari Obama mengumpulkan dan menggabungkan data yang didapat dari pendaftaran pemilih, donasi, catatan publik, dan data iklan pihak ketiga (termasuk data digalidari media sosial).

Kemudian semua orang yang diidentifikasi dievaluasi kemungkinannya memilih Obama.

Berbekal informasi demografis yang canggih, tim kemudian meluncurkan kampanye yang ditargetkan, seperti daerah swing voter. Hal ini ditujukan meningkatkan jumlah pemilih di antara sektor mana yang mungkin mendukung tinggi pada kandidat mereka.

Di sinilah, peran utama mahadata menentukan calon pemilih yang setia, pemilih lawan dan pemilih ragu-ragu yang masih maju mundur.

Lalu bagaimana mempengaruhi pemilih ragu-ragu, diperlukan pemahaman tentang perilakunya agar dibuat strategi yang jitu terhadap para peragu agar berpindah menjadi pendukung.

Untuk mengolah data raksasa, perlu teknologi big data yang mendapat meningkatkan volume data, sehingga mampu mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis data dalam jumlah besar secara cepat dan efisien.

Dengan demikian, kampanye politik dapat lebih efektif dan terencana.

Mahadata seperti di Google dan Facebook telah membantu Partai Republik memenangkan pemilihan presiden AS. Kini, mahadata bisa membantu partai politik di Indonesia seperti aneka ciri pemilih, keinginan dan preferensnya, serta tren masyarakat tentang pandangan politik terbaru.

Partai politik dapat menggunakan data menyusun strategi pemenangan sehingga dapat mengayun pemilih ke calon Presiden tertentu seperti kemenangan Presiden Jokowi yang lalu.

Partai politik yang memenangkan pemilu adalah mereka yang berhasil mengumpulkan data raksasa dan menganalisisnya dengan tepat.

Strategi menjalankan data raksasa pada pemilu sangat diperlukan, untuk memudahkan memenangkan Pemilu. Data raksasa yang dimaksud adalah data dengan volume besar, terstruktur yang mudah dianalisis, berformat digital sehingga mudah dipahami menurut permintaan.

Data ini diperoleh dari berbagai sumber, seperti media sosial, survei, kunjungan team kampanye ke daerah, serta kelompok-kelompok diskusi.

Kampanye politik akan lebih efektif dan hasilnya pun dapat diramalkan, karena big data tahu benar tentang swing voter. Strategi yang tepat dengan mengetahui perilaku pemilih, dapat menggaet suara mendukung kandidat menjadi unggulan. 

Partai politik yang memenangkan suara terbanyak, sangat ditentukan oleh strategi pengolahan data serta analisisnya, yang memberi arah pada kampanye untuk mencapai kemenangan, dan membantu mendekatkan petugas kampanya pada hati para pemilih di Indonesia.

Manerep Pasaribu adalah, dosen Pascasarjana PPIM Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI dan anggota Indonesia Management Strategic Society.

Sumber: Strategi Mahadata Untuk Pemenangan Pemilu